Merasakan mendung di tiga tempat yang berbeda.
Selasar perpus kami menyebutnya. Memandang ke arah pepohonan
yang bergelayut diterpa angin, tanah yang karena lemah tidak sanggup mempertahankan diri, pasrah kemanapun angin
membawanya. Beberapa hari tempat ini menjadi tempat favorit kami menghabiskan
siang yang melelahkan. Sembari berharap melihat hujan menari-nari di atas
permukaan lapangan.
Berlari ke arah hujan. Selalu itu yang terjadi. Seperti anak
kecil yang malu-malu menjulurkan tangan ke tetesan gerimis. Namun kali ini ada
yang berbeda. Rasanya seperti ingin bersembunyi dari mendung. Hanya dentingan keyboard
yang menemani. Melodies of life. Tak pernah
mendengar sebelumnya. Namun cukup membuat tersayat. Sesak.
Gerimis semakin berebutan mengguyur tanah ini. Membuat orang-orang
berlarian ke setiap sudut. Menyisakan anak-anak yang membiarkan dirinya
dibasahi air langit. Seperti diriku. Merasa begitu bahagia. Entahlah ini
bahagia atau sedih. Hujan menyamarkan air yang menetes dari mata. Tapi aku
tersenyum. Mungkin tangisan kebahagiaan. Mungkin. Karena hujan selalu membuatku jatuh hati.
Terbangun dari mimpi. Melihat sekitar. Menemukan pohon apel itu masih pada tempatnya. Ya, masih kokoh
berdiri di tempatnya. Tanpa ada dahan yang jatuh satupun. Tapi coba lihat,
pohon itu ternyata tumbuh di tanah orang lain. Bukan di tanahku. Jadi selama
ini hujanlah yang mengaburkan pandangan. Membuat seolah pohon ini tumbuh subur
karena tanahku. Tanah kami tak berbatas apapun. Hanya ada batas tak tertulis yang membedakan. Kali ini aku yakin bahwa pohon
itu berdiri bukan di tanah milikku.
Hujan yang menyemukan semua. Ada tunas kecil yang tumbuh di
sini. Bukan pohon apel. Hanya sebuah pohon
yang aku pun tak tahu apa namanya. Hujan yang mengaburkan pandangan. Pohon ini
selalu ada. Selalu bertahan apapun yang terjadi. Setia tumbuh di tanah yang
pemiliknya saja tak pernah menyadari keberadaannya. Selalu menyembunyikan
kesedihannya demi melihat senyum si pemilik tanah.
Kini mimpi itu sudah berakhir. Hanya kenyataan yang
tertinggal. Aku hanya memiliki tunas ini. Tunas kecil yang akan menjadi cerita
sepanjang perjalanan hidup. Menjajikan kebahagiaan. Aku tahu aku akan bahagia suatu
saat. Berterima kasih telah bermimpi. Mimpi yang membuat terbangun. Menyadari bahwa
harapan selalu ada untuk orang-orang yang bersabar. Pohonku memang masih baru
tumbuh. Tidak secantik dan serimbun pohon
apel itu. Berusaha merawat dengan penantian terbaiklah yang akan membuatnya
mekar pada saat yang tepat.
Selamat tinggal :)
“Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau
diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu,
menyakitkan.”
-Tere Liye, kau aku dan sepucuk angpau merah-
-Tere Liye, kau aku dan sepucuk angpau merah-

0 komentar:
Posting Komentar