You only live once, but if you do it right, once is enough. really proud to be born as a muslimah :)

Kamis, 14 November 2013

mimpi di balik hujan

Merasakan mendung di tiga tempat yang berbeda.

Selasar perpus kami menyebutnya. Memandang ke arah pepohonan yang bergelayut diterpa angin, tanah yang karena lemah tidak sanggup mempertahankan diri, pasrah kemanapun angin membawanya. Beberapa hari tempat ini menjadi tempat favorit kami menghabiskan siang yang melelahkan. Sembari berharap melihat hujan menari-nari di atas permukaan lapangan.

Berlari ke arah hujan. Selalu itu yang terjadi. Seperti anak kecil yang malu-malu menjulurkan tangan ke tetesan gerimis. Namun kali ini ada yang berbeda. Rasanya seperti ingin bersembunyi dari mendung. Hanya dentingan keyboard yang menemani. Melodies of life. Tak pernah mendengar sebelumnya. Namun cukup membuat tersayat. Sesak.

Gerimis semakin berebutan mengguyur tanah ini. Membuat orang-orang berlarian ke setiap sudut. Menyisakan anak-anak yang membiarkan dirinya dibasahi air langit. Seperti diriku. Merasa begitu bahagia. Entahlah ini bahagia atau sedih. Hujan menyamarkan air yang menetes dari mata. Tapi aku tersenyum. Mungkin tangisan kebahagiaan. Mungkin. Karena hujan selalu membuatku jatuh hati.

Terbangun dari mimpi. Melihat sekitar. Menemukan pohon apel  itu masih pada tempatnya. Ya, masih kokoh berdiri di tempatnya. Tanpa ada dahan yang jatuh satupun. Tapi coba lihat, pohon itu ternyata tumbuh di tanah orang lain. Bukan di tanahku. Jadi selama ini hujanlah yang mengaburkan pandangan. Membuat seolah pohon ini tumbuh subur karena tanahku. Tanah kami tak berbatas apapun. Hanya ada batas tak tertulis yang membedakan. Kali ini aku yakin bahwa pohon itu berdiri bukan di tanah milikku.

Hujan yang menyemukan semua. Ada tunas kecil yang tumbuh di sini. Bukan pohon apel. Hanya sebuah pohon yang aku pun tak tahu apa namanya. Hujan yang mengaburkan pandangan. Pohon ini selalu ada. Selalu bertahan apapun yang terjadi. Setia tumbuh di tanah yang pemiliknya saja tak pernah menyadari keberadaannya. Selalu menyembunyikan kesedihannya demi melihat senyum si pemilik tanah.

Kini mimpi itu sudah berakhir. Hanya kenyataan yang tertinggal. Aku hanya memiliki tunas ini. Tunas kecil yang akan menjadi cerita sepanjang perjalanan hidup. Menjajikan kebahagiaan. Aku tahu aku akan bahagia suatu saat. Berterima kasih telah bermimpi. Mimpi yang membuat terbangun. Menyadari bahwa harapan selalu ada untuk orang-orang yang bersabar. Pohonku memang masih baru tumbuh. Tidak secantik dan serimbun pohon apel itu. Berusaha merawat dengan penantian terbaiklah yang akan membuatnya mekar pada saat yang tepat.
Selamat tinggal :)



“Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan.” 
-Tere Liye, kau aku dan sepucuk angpau merah-


0 komentar:

Posting Komentar

© jangan menghindar. hujan itu rahmat :), AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena