Minimalis. Memang dengan perabot
seadanya. Pagar dari kayu dengan tumbuhan yang menjalar. Rumah ini berbeda. Pepohonan rimbun tumbuh di halamannya. Juga mawar
putih. Mawar yang paling kusuka. Cuaca belakangan ini terlalu terik. Hanya satu
dua orang yang mencoba berdiri (seperti) tegar di luar. Memaksa diri demi
keluarga. Selalu ada yang berbeda dari rumah
ini. Tidak ada yang lantas berdiam diri di dalam hanya untuk melindungi dirinya sendiri. Penghuninya bahkan
selalu menyunggingkan senyum termanis, apapun yang terjadi. Saling menguatkan. Keluarga
yang selalu terlihat bahagia, dan mereka memang bahagia.
Teruntuk kalian yang sudah
membersamaiku di jalan dakwah. Sungguh ketika pilihan itu diberikan sekali
lagi. Aku akan tetap memilih keluarga ini. Mungkin aku pernah terlupa bahwa
selalu ada yang menunggu di rumah saat
ku berjalan terlalu jauh. Saat aku tergoda melihat bunga di halaman rumah yang lain. Namun sekali lagi, dan
selalu, keluarga ini lah yang membantu menunjukkanku arah pulang. Yang kepada
mereka Allah sudah menautkan hatiku. Jazakumulloh khoir, uhibbukum fillah :’)
waktu pertama kali belajar pop up, masih abal-abal, belum sempat diberikan..
-menangis dalam kebahagiaan,
terima kasih untuk malam ini-


0 komentar:
Posting Komentar